Kedelai Mahal, Kelompok Pengusaha Mikro Tahu-Tempe di Lampung Utara Mengeluh

48 views
pengusaha Tahu dan Tempe di Lampung Utara mengeluh kenaikan harga kedelai yang melambung cukup tinggi ||handover

KABARNUANSA.ID, LAMPUNG – Pandemi Covid-19 yang masih terus terjadi, tampaknya sangat dirasakan dampaknya oleh masyarakat di semua sektor termasuk para Pengerajin Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

Seperti yang dirasakan pengusaha Tahu dan Tempe di Lampung Utara mengeluh kenaikan harga kedelai yang melambung cukup tinggi. Kondisi ini cukup membebani permodalan tanpa dibarengi ideal kenaikan harga pasar.

Saat ini para Pengrajin Tahu dan Tempe di daerah ini mengeluhkan harga kedelai yang mengalami kenaikan dari Rp7.200/kg naik menjadi Rp.9.000/kg. imbas kenaikan harga kedelai ini juga dirasakan Konsumen tahu dan tempe

Ketua Kelompok.Pengrajin Tahu dan Tempe, Sujono, beralamat di Perumahan Kopti LK.03/RT 06 Kelurahan Sribasuki mengatakan, naiknya harga Kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan Tahu dan Tempe, juga dibarengi kenaikan harga di pasaran.

“Tidak ada alternatif lain yang bisa dilakukan pengerajin bahan baku makanan olahan ini kecuali ikut menaikkan harga Tempe dan Tahu di pasaran sebagai respon atas kenaikan harga Kedelai,” ungkap Sujono, Selasa (5/1/2020).

Sebagai pengusaha mikro, kata Sujono, diharapkan Pemerintah dapat memperhatikan keberlangsungan usaha kecil. Tentunya dengan melakukan normalisasi harga Kedelai. Setidaknya harganya bisa kembali menyentuh Rp7.200/kg.

“Dengan begitu para Petani, Pengrajin dan konsumen dapat merasakan standar harga kedelai yang sesuai,” pintanya.

Sujono juga mengatakan dengan kenaikan harga bahan baku Tahu dan Tempe tersebut, dirasakan cukup berat karena harus mengikuti harga jual untuk mengimbangi antara modal dan pendapatan.

“Dengan naiknya harga bahan baku kedelai ditenggah masa Pandemi ini, cukup berat kami rasakan selaku pengrajin. Kami juga berharap adanya bantuan pemerintah guna menghadapi kondisi ini,” harapnya.

Dia menambahkan, sejak Covid-19 melanda, cukup banyak mempengaruhi sektor ekonomi baik domestik maupun global. Dampak pandemi paling terasa terjadi pada sektor usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). (Kun/asa/*)