Diduga Gelapkan Sumbangan Masjid, Ketua Pengurus Laporkan Rajamuddin cs ke Polisi

1.2K views

Kabarnuansa.id, Bantaeng – Setiap orang punya keinginan untuk melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Seperti yang dilakukan Hj. Baraiya semasa hidupnya telah menyumbangkan hartanya untuk pembangunan masjid di desanya sebesar Rp.200 juta.

Tapi niat baik tersebut tidak berjalan mulus karena dana hibah yang sudah di sumbangkan ke masjid melalui rekening, hingga kini belum sampai ke tangan pengurus karena adanya niat lain dari salah seorang keluarga yang juga sebagai ahli waris Hj Baraiya.

Akibatnya, Ketua Pengurus Masjid Nurul Ihkas Kampung Bongoso Desa Barua Kecamatan Eremerasa H. Bano bin Naba (65) melaporkan secara resmi Rajamuddin cs ke Polres Bantaeng dengaan dugaan penggelapan dana hibah masjid sebesar Rp200 juta, Selasa (2/6/2020).

Berdasarkan laporan tersebut, H Bano menyebutkan kalau dana hibah itu di cairkan Rajamuddin bersama temannya tanpa sepengetahuannya sebagai Ketua pengurus masjid.

“Atas nama pengurus masjid kami merasa dirugikan dan keberatan prilaku pelaku yang mencairkan dana masjid tanpa diketahui. Untuk menghindari hal-hal tak diinginkan terpaksa masalah ini kami laporkan ke polisi,” terang H. Bano usai melapor.

Advokat Fajri Karel SH & Rekan

Sementara dalam kasus ini pengurus Masjid didamping kuasa hukum dari Fajri Karel SH dan Rekan. Menurut Tahiruddin SH, MH, persoalan ini muncul berawal ketika salah seorang jamaah masjid bernama Hj Baraiya, semasa hidupnya telah menyumbangkan hartanya berupa uang sebanyak Rp200 juta ke Masjid Nurul Ihlas Bongoso Desa Barua.

“Sumbangan tersebut kemudian disimpan dalam rekening BRI pada tanggal 10 Mei 2015 silam. Berdasarkan surat pernyataan dan kuasa yang telah dibuat, dana sumbangan itu baru bisa dicairkan setelah Hj.Baraiya meninggal dunia. Sedangkan Hj.Baraiya meninggal pada 2019 lalu,” beber Tahiruddin.

Hanya saja, menurut Muhammad Nurfajri SH, kuasa hukum lainnya, ketika dana sumbangan masjid itu mau dicairkan, pihak Bank menolak jika dana tersebut dicairkan H.Bano. Apalagi surat pernyataan yang pernah dibuat almarhumah Hj.Baraiya tidak ada di tangan Ketua pengurus Masjid. Surat kuasa itu disebut-sebut berada dalam penguasaan pemerintah desa.

Meskipun H. Bano selaku ketua pengurus Masjid Nurul Ihlas berupaya mencari tau keberadaan surat kuasa tersebut, namun sulit untuk diperoleh. Bahkan H.Bano telah berupaya mencairkan sumbangan itu tapi tetap ditolak pihak Bank. Dana tersebut bisa dicairkan jika dilakukan pihak ahli waris Hj.Baraiya.

“Saat itu H.Bano minta agar dirinya bisa dihadirkan pada saat pencairan dana hibah sumbangan dari almarhumah Hj.Baraiya. Namun sayangnya tidak dihadirkan,” jelasnya.

Belakangan baru diketahui kalau sumbangan tersebut sudah dicairkan ketika salah seorang ahli waris Hj. Baraiya menyumbang ke Masjid Nurul Ihlas Bongoso sebanyak Rp1,6 juta.

Dari hasil penelusuran jamaah dan pengurus masjid, diketahui kalau dana hibah yang berasal dari sumbangan almarhumah Hj.Baraiya sudah dicairkan Rajamuddin Bin Bora dan disebut-sebut turut diketahui pemerintah setempat.

“Guna menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, atas nama Ketua pengurus Masjid Nurul Ihlas melaporkan dana hibah masjid tersebut ke Polisi. Karena pencairannya dilakukan tanpa sepengetahuan pengurus masjid,” tutup Agum Iswara Chandra SH. (alb/aw1)